Bulan suci Ramadhan 1447 H kembali menyapa, membawa keberkahan dan kesempatan berharga untuk menempa karakter anak-anak sejak usia dini. Bagi keluarga besar TKIT Nusantara, momen Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan madrasah terbaik untuk menanamkan nilai-nilai keislaman dan akhlakul karimah kepada para murid.
Kepala TKIT Nusantara, Ibu Uneh Nurlela, SE, menyampaikan bahwa pendidikan puasa bagi anak-anak usia taman kanak-kanak perlu dilakukan secara bertahap, menyenangkan, dan penuh kasih sayang. Salah satu cara pendekatan yang diterapkan untuk mengenalkan esensi bulan puasa kepada murid-murid adalah dengan membaginya ke dalam pemahaman tiga fase utama Ramadhan:
Fase 10 Hari Pertama (Rahmah/Kasih Sayang): Pada fase awal ini, guru dan orang tua di TKIT Nusantara berfokus mengajarkan arti kasih sayang Allah dan sesama. Murid-murid diajak untuk lebih peduli, seperti belajar berbagi makanan ringan untuk berbuka (takjil), patuh kepada orang tua, dan saling menyayangi teman.
Fase 10 Hari Kedua (Maghfirah/Ampunan): Memasuki pertengahan Ramadhan, anak-anak mulai diajarkan tentang pentingnya kebesaran hati. Mereka dibimbing untuk berani mengakui kesalahan, meminta maaf jika berbuat salah, serta mudah memaafkan teman, sebagai bentuk cerminan sifat Allah yang Maha Pengampun.
Fase 10 Hari Ketiga ('Itqun Minan Nar/Pembebasan dari Api Neraka): Di fase penutup ini, tantangan utamanya adalah menjaga semangat. Murid-murid TKIT Nusantara dimotivasi untuk tetap istiqomah (konsisten) menjalankan ibadah—meskipun baru belajar berpuasa setengah hari—dan menjaga antusiasme beribadah hingga menyambut hari kemenangan.
Pada tahun 1447 H ini, umat Islam di Indonesia kembali menjumpai dinamika perbedaan penetapan hari pertama puasa maupun jatuhnya hari raya Idul Fitri. Di TKIT Nusantara, kondisi ini justru tidak dilihat sebagai masalah, melainkan dijadikan sarana edukasi yang sangat berharga mengenai toleransi (tasamuh).
Ibu Uneh Nurlela, SE, menekankan bahwa perbedaan ini adalah momen yang tepat untuk mengajarkan kebesaran jiwa kepada anak-anak. “Kita kenalkan kepada murid-murid bahwa perbedaan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan adalah hal yang wajar karena adanya perbedaan metode (rukyat dan hisab) dalam Islam. Yang paling penting ditekankan kepada anak-anak adalah untuk tetap saling menghargai, tidak saling mengejek, dan rukun bersama teman-temannya. Ini adalah bentuk nyata menjaga Ukhuwah Islamiyah,” tuturnya.
Melalui pembiasaan-pembiasaan sederhana ini, diharapkan murid-murid TKIT Nusantara tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual dan kepekaan sosial. Semoga rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan 1447 H ini mampu membentuk mereka menjadi generasi rabbani yang berakhlak mulia, penuh kasih sayang, dan senantiasa menjunjung tinggi persatuan.



0 Komentar