Menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H yang tinggal menghitung hari, keluarga besar TKIT Nusantara menggelar rangkaian acara bertajuk "Tarhib Ramadhan: Sucikan Hati, Perkuat Silaturahmi". Kegiatan yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh jajaran pengelola sekolah, para guru, seluruh murid, serta wali murid yang memadati area aula sekolah.
Acara ini dirancang bukan sekadar sebagai seremoni tahunan, melainkan sebagai wadah edukasi bagi siswa untuk memahami esensi bulan puasa melalui praktik langsung dan penguatan ukhuwah antara pihak sekolah dan orang tua.
Khidmat dalam Lantunan Yasin dan Doa Bersama
Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan pembacaan Surat Yasin secara berjamaah. Suasana syahdu menyelimuti ruangan saat suara mungil para siswa bersahutan dengan suara berat para orang tua, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Sesi ini ditujukan untuk mendoakan keberkahan bagi keluarga besar TKIT Nusantara agar diberikan kesehatan dan kekuatan iman dalam menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh. Pembacaan Yasin ini juga menjadi pengingat bagi anak-anak tentang pentingnya berinteraksi dengan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Islam.
Pentas Dakwah Cilik: Membangun Kepercayaan Diri dan Karakter Syiar
Sorotan utama acara ini terletak pada penampilan Pentas Dakwah oleh murid-murid TKIT Nusantara. Dengan mengenakan busana muslim yang rapi dan menarik, para da'i cilik ini tampil ke depan panggung tanpa rasa canggung.
Materi yang disampaikan sangat relevan dengan dunia anak, mulai dari adab makan saat berbuka, keutamaan bersedekah di bulan puasa, hingga pentingnya kejujuran. Penampilan ini memancing decak kagum sekaligus tawa gemas dari para hadirin.
"Melihat anak-anak usia dini sudah berani memegang mikrofon dan menyampaikan pesan kebaikan adalah sebuah pencapaian besar. Ini adalah cara kami membentuk karakter Lembaga Pendidikan Rabbani yang mandiri dan berjiwa syiar," ungkap salah satu guru pendamping.
Pesan Inspiratif Kepala Sekolah: Sinergi Guru dan Orang Tua
Dalam sambutannya, Ibu Uneh Nurlela, SE., selaku Kepala TKIT Nusantara, menekankan pentingnya kesiapan mental dan spiritual. Beliau menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan karakter di sekolah sangat bergantung pada dukungan orang tua di rumah.
"Ramadhan adalah madrasah terbaik bagi anak-anak kita. Di TKIT Nusantara, kami mengenalkan puasa sebagai bentuk cinta kepada Allah. Kami berharap Ayah dan Bunda dapat melanjutkan pembiasaan positif ini di rumah, sehingga puasa tidak dianggap sebagai beban, melainkan kegembiraan," tutur Ibu Uneh Nurlela, SE. dalam pidatonya yang disambut antusias oleh para wali murid.
Beliau juga mengapresiasi kekompakan orang tua murid yang senantiasa mendukung program-program sekolah demi kemajuan tumbuh kembang anak.
Musafahah: Membersihkan Hati Sebelum Ramadhan
Memasuki inti dari persiapan batin, acara dilanjutkan dengan sesi Musafahah atau bersalam-salaman. Momen haru menyelimuti aula saat para orang tua bersalaman dengan dewan guru, saling memaafkan atas segala khilaf dalam proses interaksi pendidikan selama ini.
Sesi musafahah ini menjadi simbol pembersihan hati (tazkiyatun nafs), agar setiap individu memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan suci, tanpa ada ganjalan perasaan maupun kesalahan antar sesama.
Tradisi Papajar: Merayakan Kebersamaan dalam Kehangatan Kuliner
Sebagai puncak kegembiraan, seluruh hadirin mengikuti tradisi Papajar (makan bersama). Berbagai hidangan khas disajikan dan dinikmati secara komunal, menciptakan suasana kekeluargaan yang sangat erat.
Papajar di TKIT Nusantara kali ini menjadi ajang diskusi santai antara guru dan orang tua di luar jam formal persekolahan. Gelak tawa dan canda mengiringi santap siang bersama, menutup rangkaian acara dengan kesan yang mendalam. Kebersamaan ini menjadi energi positif bagi seluruh warga sekolah untuk menyongsong bulan suci dengan penuh semangat dan rasa syukur.


0 Komentar